Rabu, 05 Agustus 2015

Cerpen Terima Kasih Ramadhan

Terima Kasih Ramadhan

Oleh Sakinah Khoerunnisa

 Bagai tertendang ombak tertiup angin. Inilah yang kualami sekarang. Bagaimana tidak? Sudah mau menginjak 15 hari aku menjalankan ibadah puasa, sudah hampir setengah tahun aku menjadi siswa SMA. Tapi tetap saja aku masih dijadikan bahan ejekan teman-teman.

 Bukan karena tampangku yang pas-pasan, bukan juga penampilanku yang norak, apalagi bukan kacamataku yang tebal. Cuma masalah kecil, sih. Tapi berawal dari masalah kecil menjadi masalah besar.

 Entah ini salahku atau ibu yang melahirkan.

 ‘Kau berani-beraninya menyalahkan ibumu ini, Anakku. Kukutuk kau jadi batu.’

 ‘Maafkan aku ibu, aku tidak bermaksud menyalahkanmu.’

 Hanya khayalanku saja. Yah, sebenarnya ini masalah bahwa aku adalah siswa yang mahir dalam mata pelajaran matematika.

 “Haha, gak bisa ngitung, ya Bro,” celetuk salah satu temanku.

 Oke, sebenarnya aku berbohong. Aku tidak bisa berhitung. Maksudku, aku tidak bisa mengalikan dan membagikan. Hanya itu. Tapi mau dikemanakan harga diriku ini?

 “Dibawa ke tong sampah aja,” entah asal darimana suara itu.

 Ya Allah, aku bagaikan mahasiswa satu-satunya yang bodoh dikelas ini. Ingin sekali aku berteriak sekuat tenaga. Kalau saja aku bisa memilih, lebih baik aku mati saja sekarang juga. Dari pada menanggung aib ini.

 “Ambillah nyawaku ini, Ya Allah,” jerit hati kecilku.

 “Ssstt...Sakti, loe ditanya tuh sama Pak Danang,” bisik teman sebangkuku.

 Tidak, ternyata sejak tadi Pak Danang memanggilku tapi aku diam saja. Sibuk dengan khayalannku. Pak Danang adalah guru matematika di kelasku. Mati aku. Kenapa harus aku yang dipanggil olehnya? Kenapa? Aku mencium bau kekalahanku. Maksudnya, aku akan jadi bahan olok-olokan teman-temanku lagi.

 “Sakti, kau ini kenapa? Sejak tadi kau melamun saja. Atau kau tidak sahur? Sampai loyo seperti ini,” tanya Pak Danang yang selalu menggunakan kata ‘Kau’ dibanding kata ‘Kamu’ tiap memanggil orang kedua.

 Entah ini perhatian lebih untukku atau apalah. Tapi semoga saja, beliau tidak memberikan pertanyaan yang menurutku susah tapi anak SD dan SMP pun bisa. Hehe.

 “Sakti, seribu dikalikan sepuluh dibagi dua, berapa?”

 Gubrak, benar saja dugaanku.

 “Anu, Pak,” aku gugup.

 Mana kalkulator mana? Aku membutuhkan mesin hitung itu. Astagfirullah, kalkulatorku ada di rumah. Kenapa harus ada acara lupa. Andai aku bisa menghilang. Aku akan pergi ke rumah mengambil kalkulatorku. Aha, aku masih ingat film yang berjudul Jumper. Ia bisa mengarungi ruang tiga dimensi tanpa orang tahu. Apa aku harus seperti dia. Aku akan coba. Kupejamkan kedua mataku. Tring, saat ku buka kedua mataku. Apa yang terjadi? Aku masih ada dalam kelasku.

 “180 kayaknya, Pak,” dengan berat hati ku jawab semampuku.

 Tiba-tiba salah satu temanku cekikikan,  diikuti teman-teman yang lain. Akhirnya kelas diisi dengan tawaan. Aku tahu mereka semua menertawakanku. Tapi, maaf. Hari ini kemenangan berpihak padaku. Tidak lama, bel tanda istirahat pun berbunyi.

 Semua siswa berhamburan keluar. Ada yang menepuk punggungku, ada juga yang memberikan semangat kepadaku. Tapi ada juga yang mengejekku. Semua itu kuterima dengan lapang dada. Karena inilah aku, orang yang selalu sabar dalam menerima cobaan.

 “Sakti, bapak sarankan kau berusaha belajar lagi untuk menutupi kekurangan kau. Karena dibalik kekurangan kau itu ada kelebihan yang tersembunyi dalam diri kau. Buktikan bahwa kau berbeda,” ujar Pak Danang sembari menepuk punggungku.

 Aku sedikit lebih baik dengan kata-kata yang disampaikan Pak Danang. Disisi lain, memang Pak Danang selalu jail terutama kepadaku. Tapi disisi lain juga, walau beliau bermuka seram masih ada hati pink didalam dirinya.

 “Aku akan berusaha membuktikan ucapanmu, Pak,” bisikku dalam hati.

***

 “Bu, berapa jam lagi sih adzan?” Tanyaku pada ibuku yang sedang serius menonton televisi.

 “Masih lama.”

 Aku melihat jam dinding. Masih pukul 16:00. Oh tidak, mengapa ini terjadi padaku? Mengapa, Ya Allah? Aku sudah haus. Aku sudah lapar. Sepertinya dan sepertinya? Aku akan...

 “Bu, aku izin minum, yah?” Aku tersenyum lebar. Memperlihatkan gigi-gigiku yang rapih.

 “Apa???” pandangannya mengarah kearahku. Menatapku dengan tajam. Matanya melotot. Kalau aku boleh berkata.

 “Bu, jangan melotot. Nanti matanya keluar. Nanti gak bisa liat deh. Gak bisa liat anakmu yang ganteng ini.” Haha. Tapi kuurungkan. Karena itu hanya candaanku saja. Aku lari meninggalkan ibuku yang masih menatapku dengan tajam. Supaya tak kena semprotnya.

 Aku terdiam didalam kamarku. Aku berpikir sejenak. Apa yang harus aku lakukan sambil menunggu adzan magrib tiba? Apa yang harus aku lakukan sambil menunggu buka puasa?

 ‘Sakti, bapak sarankan kau berusaha belajar lagi untuk menutupi kekurangan kau. Karena dibalik kekurangan kau itu ada kelebihan yang tersembunyi dalam diri kau. Buktikan bahwa kau berbeda.’

 Tiba-tiba saja aku teringat kata-kata Pak Danang di kelas tadi. Apa aku harus belajar. Belajar untuk menghitung. Ah, sangat memalukan. Tapi akan kucoba sekarang. Ku keluarkan bukuku dalam laci. Dan memulai belajar mengasah otakku.

 Aku mengali-ngalikan angka-angka. Kemudian membagi-baginya. Setelah beberapa jam, bukuku sudah dipenuhi semua angka yang membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak tanpa kalkulator aku terus menghitung. Menghitung, menghitung dan menghitung. Mungkin otakku sudah dipenuhi angka-angka. Tapi aku tak yakin jawabanku benar seratus persen.

 Pintu kamarku dibuka dari luar. Ternyata Bapak dan Ibuku.

 “Nak, kamu sedang apa?” tanya bapakku yang sudah pulang dari pekerjaannya.

 “Ini, pak,” aku memperlihatkan buku yang dipenuhi angka-angka.

 Kedua orangtuaku menatapku aneh. Aku tahu apa yang dipikirkan oleh mereka. Mereka pikir, aku sedang menghitung pengeluaran bulan ini yang seabreg panjangnya. Mereka malah menggelengkan kepala melihat tingkah laku anaknya.

 “Ya udah, nak. Ayo kita buka puasa bersama. Sebentar lagi adzan,” ajak ibuku.

 “Apa, bu? Mau adzan magrib lagi?” aku melihat ke jendela. Benar kata ibu. Mataharinya sudah tenggelam.

 “Iya, dari tadi ibu sama bapak manggil kamu. Tapi kamu gak jawab-jawab. Kirain ibu kamu marah soal tadi siang.”

 “Emang ada kejadian apa tadi siang, bu?” Tanya bapak penasaran.

 “Sakti pengen cepet-cepet buka.”

 Bapak hanya menggeleng kepala. Aku malah menggaruk kepala yang tak terasa gatal.

 “Ya sudah, ayo kita buka puasa. Sebentar lagi adzan,” kami pun keluar dari kamar menuju ruang makan.

 Setelah aku berbuka puasa. Aku langsung solat berjamaah menuju masjid bersama bapakku. Dan entah kenapa sehabis solat berjamaah selesai aku ingin membaca Al-quran di masjid.

***

 Pagi-pagi sekali, aku berangkat ke sekolah. Karena yang kutahu, belajar pagi-pagi akan membuat otak kita mudah mencerna semua pelajaran. Aku pun melanjutkan pekerjaanku yang kemarin yaitu belajar menghitung. Hasil yang kudapat kemarin adalah 280396.

 “Pagi, bro,” sapa temanku bernama Rudi. Penampilannya selalu kacau.

 “Pagi,”jawabku seadanya.

 “Tumben pagi-pagi udah disini. Mau jadi anak rajin, bro?”

 “Enggak juga sih, lagi latihan menghitung.”

 “Liat coba, mana?”

 “Boleh-boleh, nih,” aku memperlihatkannya.

 “280396,” gumamnya. “Makasih, ya bro. Loe meringankan tugas gue. Gue duluan.”

 “Aneh.”

 Keesokan harinya, aku semakin ketagihan belajar menghitungku. Mengasah otakku membuatku semakin banyak berpikir. Yang awalnya otakku banyak sarang laba-laba karena tak pernah kurawat akhirnya sudah bersih karena sering kurawat. Haha, memangnya apaan?

 Tidak jarang aku memperlihatkan pada beberapa temanku. Dan sedikit demi sedikit ada peningkatan dalam menghitungku. Kenapa? Karena aku selalu berusaha, berusaha dan berusaha. Tiba-tiba saja Rudi menghampiriku. Penampilannya sedikit berbeda. Lebih baik daripada yang kemarin.

 “Bro, gue minta hasil akhirnya lagi, bolehkan?” Tanyanya.

 “Boleh,” jawabku.

 Semakin hari penampilan Rudi semakin baik. Tapi anehnya, setiap ia menemuiku ia selalu menanyakan hasil hitunganku.

 Aku pun memberanikan bertanya mengapa ia selalu menanyakan hal yang sama setiap menemuiku.

 “Gue selalu memenangkan lotre dari hasil hitungan loe. Makasih ya, sob. Loe memang membawa keberuntungan buat gue,” itulah jawabannya.

 Sekarang aku mengerti. Aku sudah menemukan kelebihanku. Aku juga sudah menemukan perbedaan dari dalam diriku. Dan kini aku sudah tidak pusing lagi mengalikan apalagi membagi.

 Pak Danang, aku sudah membuktikannya. Nanti, akan aku jawab semua pertanyaanmu dengan benar. Tanpa berpikir apalagi memakai kalkuator.

 Mungkin, ini juga adalah hikmah dari bulan Ramadhan. Mungkin juga karena aku sering tadarusan setiap malamnya. Mungkin juga karena aku selalu berusaha.

 Yang terpenting Ramadhan tahun ini sangat membahagiakanku dan menjadikanku diri yang lebih baik. Terima kasih, Ramadhan.

Ciranjang, Mei 2015
(Tugas bersama para flp cjr dulu)
Minta kritik dan saran teman-teman. Saya masih dalam tahap belajar menulis cerita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar