Malam ini hujan turun. Membasahi tanah asrama kampus yang sudah basah. Pertama kali turun, saat siang tadi setelah semua mahasiswa tingkat 1 d3 keperawatan selesai latihan mempersiapkan uji praktik. Dan tak disangka, hujan itu membuat ayahku tidak jadi menengok ke asrama. Bukan aku menyalahkan hujan, hanya saja alasan itu yg membuat ayahku tidak jadi kesini.
Udara malam seperti biasa selalu memberi kedinginan yang tak bisa aku tolak. Yah, inilah yang sedang kualami. Dan sekarang aku hanya bisa berdiam. Padahal masih banyak tugas yang harus aku kerjakan untuk mempersiapkan uji praktik yang tinggal menghitung hari.
Arrghh, tapi rasa malas ini yang membuatku susah untuk melakukannya. Ditambah dengan hujan dan udara dingin yang membuatku semakin malas.
Oh, hujan
Terimaa kasih kau telah berhasil membuat diri ini tak mau bergerak dari tempat tidur yang hangat ini. :')
~190116, 19:30~
Bumi Abdi
Bagai tertendang ombak tertiup angin
Selasa, 19 Januari 2016
Rasa ini
Kamis, 26 November 2015
New life
23-11-2015 05:08
Bismillah...
Sudah 4 bulan berjalan aku menjalani masa-masa ini di Poltekes Yapkesbi Sukabumi. Kehidupan baru. Aktifitas baru. Teman baru. Guru pun baru.
Dan sekarang aku tinggal di asrama yang telah disediakan dekat sekali dengan kampus. Alasannya bukan hanya dekat tapi juga agar terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan. *padahal gimana orangnya aja, kalau imannya kokoh mungkin gak segampang itu...haha berarti iman Gue masih karatan donk :D
Awalnya, keadaan baru itu masih terasa asing bagiku. Tapi seiring berjalannya waktu, aku merasa dihidupkan kembali. *emangnya orang mati bisa dibangkitkan lagi...wkwk
Aku seperti merasakan kembali suasana Al-ittihad Boarding School dulu. Tapi bedanya, tidak ada aturan yang mengekang. Semuanya bebas. Dalam artian masih dalam batas sewajarnya.
Di asrama, aku sekamar dengan adik kelasku waktu SMP namanya Endah Puji Astuti. Kemudian kamar disebelah kiriku ada Wilda Damayanti dan Lianasari. Dan kamar disebelah kiri mereka ada Elissa Agustina. Mereka yang sering berkumpul dikamarku dan Puji. Aku, Liana dan Chaca (panggilan Elissa) dijurusan Keperawatan sedangkan Wilda dan Puji dijurusan Kebidanan. Walau jurusan kita berbeda, tapi kita selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul dan makan bersama. Tapi entah sampai kapan semua itu akan bertahan?????
Okeh, itu diasrama. Tapi dikelas?? OMG, pertama kalinya aku bisa sekelas dengan makhluk yang namanya laki-laki. *terakhir Gue ngerasain sekelas sama cowok itu waktu masa SD...ngenesss :'(
Dan dari sinilah aku mulai merasakan perasaan aneh. *yah perasaan yang selalu menemaniku tiap harinya 0.0
Minggu, 30 Agustus 2015
My Life is My Choice
Setelah semua urusan beres. Kami pun pulang.
Oh iya, kawan. Sebenarnya aku memilih Sukabumi tidak hanya ingin jauh dari orangtua. Tapi ingin lebih kenal lagi dengan keluarga baru ayah kandungku di Sukabumi. Tapi entahlah. Aku bingung. Semakin waktu berjalan. Aku tidak punya semangat lagi untuk bertemu dengan ayah kandungku sendiri.
Selasa, 11 Agustus 2015
Autobiografi
Sakinah Khoerunnisa, nama itu yang diberikan orangtua saya saat saya diijinkan Allah mengenal dunia luar. Saya lahir di kota Cianjur pada hari Kamis, tanggal 28 Maret 1996. Rumah saya berada di Kampung Sindangreret Rt 01/10 Jl Jati Ciranjang. Rumah sederhana namun terlalu banyak kenangan.
Saat saya menginjak usia 5 tahun, pertama kali saya merasakan dunia pendidikan. Mamah saya memasukan saya ke sebuah taman kanak-kanak yaitu TK Kemala Bhayangkari 8 yang beralamatkan di Jl. Raya Ciranjang Asrama Polri.
Saya hanya menyelesaikan taman kanak-kanak selama 1 tahun. Dan setelah itu, saya mengenyam pendidikan sekolah dasar di SDN Ciranjang 02 letaknya tidak jauh dengan taman kanak-kanak saya dulu.
6 tahun berlalu, ayah saya berniat memasukan saya ke pondok pesantren bernama Ponpes Al-ittihad Cianjur. SMP (Sekolah Menengah Pertama) , SMA (Sekolah Menengah Atas) dan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) disana semuanya ada. Awalnya saya keberatan. Namun apalah daya saya pun akhirnya mengikuti keinginan beliau.
Dan saat menginjak kelas 2 SMP, saat itulah kejadian yang tak saya harapkan terjadi. Kedua orangtua saya berpisah entah karena apa. Karena saat kejadian itu saya masih di Pondok.
Setelah saya lulus SMP saya memantapkan diri saya untuk tetap bersekolah disana ke jenjang Sekolah Menengah Atas. Selama saya disana banyak sekali kenangan manis dan pahit yang saya alami bersama teman-teman. Namun seiring waktu berjalan semua itu akan berakhir juga. Kami semua akan berpisah setelah UN (Ujian Nasional) dan Haflah (acara perpisahan kelas 6 SMA) dilaksanakan.
Setelah itu, saya mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu bangku perkuliahan. Saya hanya memilih jurusan Akuntansi di UNPAD (Universitas Padjajaran). Padahal saya boleh memilih 3 jurusan dan 2 universitas yang berbeda-beda. Namun karena keras kepala saya, saya hanya memilih 1 jurusan dan 1 universitas. Sehingga Allah berkehendak lain, pilihan yang saya idam-idamkan lenyap sudah karena saya tidak diterima masuk jalur SNMPTN.
Tak berhenti disini saja. Saya mencoba mendaftarkan diri melalui jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Dan saya masih tetap memilih jurusan Akuntansi di Unpad, kemudian jurusan Pend. Matematika di UIN SGD Bandung. Namun sayang sekali saya masih harus menerima kegagalan masuk jalur SBMPTN.
Dan lagi, saya belum menyerah. Saya berniat untuk mengikuti jalur SBMPTN lagi tahun depan. Dan untuk mengisi waktu luang yang sangat panjang saya mendaftarkan diri untuk bekerja di pabrik boneka yaitu PT. Aurora World Cianjur. Dan alhamdulillah sekali, saya diterima menjadi bagian administrasi.
Namun, setelah bergantinya tahun apa yang saya rencanakan harus terkubur dalam-dalam. Karena mamah saya tidak mengijinkan saya mendaftar lagi. Dan sebagai penggantinya, ia mendaftarkan saya ke universitas yang berada di Sukabumi yaitu Poltekes Yapkesbi.
Terima kasih :-)
Rabu, 05 Agustus 2015
Cerpen Terima Kasih Ramadhan
Oleh Sakinah Khoerunnisa
Bagai tertendang ombak tertiup angin. Inilah yang kualami sekarang. Bagaimana tidak? Sudah mau menginjak 15 hari aku menjalankan ibadah puasa, sudah hampir setengah tahun aku menjadi siswa SMA. Tapi tetap saja aku masih dijadikan bahan ejekan teman-teman.
Bukan karena tampangku yang pas-pasan, bukan juga penampilanku yang norak, apalagi bukan kacamataku yang tebal. Cuma masalah kecil, sih. Tapi berawal dari masalah kecil menjadi masalah besar.
Entah ini salahku atau ibu yang melahirkan.
‘Kau berani-beraninya menyalahkan ibumu ini, Anakku. Kukutuk kau jadi batu.’
‘Maafkan aku ibu, aku tidak bermaksud menyalahkanmu.’
Hanya khayalanku saja. Yah, sebenarnya ini masalah bahwa aku adalah siswa yang mahir dalam mata pelajaran matematika.
“Haha, gak bisa ngitung, ya Bro,” celetuk salah satu temanku.
Oke, sebenarnya aku berbohong. Aku tidak bisa berhitung. Maksudku, aku tidak bisa mengalikan dan membagikan. Hanya itu. Tapi mau dikemanakan harga diriku ini?
“Dibawa ke tong sampah aja,” entah asal darimana suara itu.
Ya Allah, aku bagaikan mahasiswa satu-satunya yang bodoh dikelas ini. Ingin sekali aku berteriak sekuat tenaga. Kalau saja aku bisa memilih, lebih baik aku mati saja sekarang juga. Dari pada menanggung aib ini.
“Ambillah nyawaku ini, Ya Allah,” jerit hati kecilku.
“Ssstt...Sakti, loe ditanya tuh sama Pak Danang,” bisik teman sebangkuku.
Tidak, ternyata sejak tadi Pak Danang memanggilku tapi aku diam saja. Sibuk dengan khayalannku. Pak Danang adalah guru matematika di kelasku. Mati aku. Kenapa harus aku yang dipanggil olehnya? Kenapa? Aku mencium bau kekalahanku. Maksudnya, aku akan jadi bahan olok-olokan teman-temanku lagi.
“Sakti, kau ini kenapa? Sejak tadi kau melamun saja. Atau kau tidak sahur? Sampai loyo seperti ini,” tanya Pak Danang yang selalu menggunakan kata ‘Kau’ dibanding kata ‘Kamu’ tiap memanggil orang kedua.
Entah ini perhatian lebih untukku atau apalah. Tapi semoga saja, beliau tidak memberikan pertanyaan yang menurutku susah tapi anak SD dan SMP pun bisa. Hehe.
“Sakti, seribu dikalikan sepuluh dibagi dua, berapa?”
Gubrak, benar saja dugaanku.
“Anu, Pak,” aku gugup.
Mana kalkulator mana? Aku membutuhkan mesin hitung itu. Astagfirullah, kalkulatorku ada di rumah. Kenapa harus ada acara lupa. Andai aku bisa menghilang. Aku akan pergi ke rumah mengambil kalkulatorku. Aha, aku masih ingat film yang berjudul Jumper. Ia bisa mengarungi ruang tiga dimensi tanpa orang tahu. Apa aku harus seperti dia. Aku akan coba. Kupejamkan kedua mataku. Tring, saat ku buka kedua mataku. Apa yang terjadi? Aku masih ada dalam kelasku.
“180 kayaknya, Pak,” dengan berat hati ku jawab semampuku.
Tiba-tiba salah satu temanku cekikikan, diikuti teman-teman yang lain. Akhirnya kelas diisi dengan tawaan. Aku tahu mereka semua menertawakanku. Tapi, maaf. Hari ini kemenangan berpihak padaku. Tidak lama, bel tanda istirahat pun berbunyi.
Semua siswa berhamburan keluar. Ada yang menepuk punggungku, ada juga yang memberikan semangat kepadaku. Tapi ada juga yang mengejekku. Semua itu kuterima dengan lapang dada. Karena inilah aku, orang yang selalu sabar dalam menerima cobaan.
“Sakti, bapak sarankan kau berusaha belajar lagi untuk menutupi kekurangan kau. Karena dibalik kekurangan kau itu ada kelebihan yang tersembunyi dalam diri kau. Buktikan bahwa kau berbeda,” ujar Pak Danang sembari menepuk punggungku.
Aku sedikit lebih baik dengan kata-kata yang disampaikan Pak Danang. Disisi lain, memang Pak Danang selalu jail terutama kepadaku. Tapi disisi lain juga, walau beliau bermuka seram masih ada hati pink didalam dirinya.
“Aku akan berusaha membuktikan ucapanmu, Pak,” bisikku dalam hati.
***
“Bu, berapa jam lagi sih adzan?” Tanyaku pada ibuku yang sedang serius menonton televisi.
“Masih lama.”
Aku melihat jam dinding. Masih pukul 16:00. Oh tidak, mengapa ini terjadi padaku? Mengapa, Ya Allah? Aku sudah haus. Aku sudah lapar. Sepertinya dan sepertinya? Aku akan...
“Bu, aku izin minum, yah?” Aku tersenyum lebar. Memperlihatkan gigi-gigiku yang rapih.
“Apa???” pandangannya mengarah kearahku. Menatapku dengan tajam. Matanya melotot. Kalau aku boleh berkata.
“Bu, jangan melotot. Nanti matanya keluar. Nanti gak bisa liat deh. Gak bisa liat anakmu yang ganteng ini.” Haha. Tapi kuurungkan. Karena itu hanya candaanku saja. Aku lari meninggalkan ibuku yang masih menatapku dengan tajam. Supaya tak kena semprotnya.
Aku terdiam didalam kamarku. Aku berpikir sejenak. Apa yang harus aku lakukan sambil menunggu adzan magrib tiba? Apa yang harus aku lakukan sambil menunggu buka puasa?
‘Sakti, bapak sarankan kau berusaha belajar lagi untuk menutupi kekurangan kau. Karena dibalik kekurangan kau itu ada kelebihan yang tersembunyi dalam diri kau. Buktikan bahwa kau berbeda.’
Tiba-tiba saja aku teringat kata-kata Pak Danang di kelas tadi. Apa aku harus belajar. Belajar untuk menghitung. Ah, sangat memalukan. Tapi akan kucoba sekarang. Ku keluarkan bukuku dalam laci. Dan memulai belajar mengasah otakku.
Aku mengali-ngalikan angka-angka. Kemudian membagi-baginya. Setelah beberapa jam, bukuku sudah dipenuhi semua angka yang membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak tanpa kalkulator aku terus menghitung. Menghitung, menghitung dan menghitung. Mungkin otakku sudah dipenuhi angka-angka. Tapi aku tak yakin jawabanku benar seratus persen.
Pintu kamarku dibuka dari luar. Ternyata Bapak dan Ibuku.
“Nak, kamu sedang apa?” tanya bapakku yang sudah pulang dari pekerjaannya.
“Ini, pak,” aku memperlihatkan buku yang dipenuhi angka-angka.
Kedua orangtuaku menatapku aneh. Aku tahu apa yang dipikirkan oleh mereka. Mereka pikir, aku sedang menghitung pengeluaran bulan ini yang seabreg panjangnya. Mereka malah menggelengkan kepala melihat tingkah laku anaknya.
“Ya udah, nak. Ayo kita buka puasa bersama. Sebentar lagi adzan,” ajak ibuku.
“Apa, bu? Mau adzan magrib lagi?” aku melihat ke jendela. Benar kata ibu. Mataharinya sudah tenggelam.
“Iya, dari tadi ibu sama bapak manggil kamu. Tapi kamu gak jawab-jawab. Kirain ibu kamu marah soal tadi siang.”
“Emang ada kejadian apa tadi siang, bu?” Tanya bapak penasaran.
“Sakti pengen cepet-cepet buka.”
Bapak hanya menggeleng kepala. Aku malah menggaruk kepala yang tak terasa gatal.
“Ya sudah, ayo kita buka puasa. Sebentar lagi adzan,” kami pun keluar dari kamar menuju ruang makan.
Setelah aku berbuka puasa. Aku langsung solat berjamaah menuju masjid bersama bapakku. Dan entah kenapa sehabis solat berjamaah selesai aku ingin membaca Al-quran di masjid.
***
Pagi-pagi sekali, aku berangkat ke sekolah. Karena yang kutahu, belajar pagi-pagi akan membuat otak kita mudah mencerna semua pelajaran. Aku pun melanjutkan pekerjaanku yang kemarin yaitu belajar menghitung. Hasil yang kudapat kemarin adalah 280396.
“Pagi, bro,” sapa temanku bernama Rudi. Penampilannya selalu kacau.
“Pagi,”jawabku seadanya.
“Tumben pagi-pagi udah disini. Mau jadi anak rajin, bro?”
“Enggak juga sih, lagi latihan menghitung.”
“Liat coba, mana?”
“Boleh-boleh, nih,” aku memperlihatkannya.
“280396,” gumamnya. “Makasih, ya bro. Loe meringankan tugas gue. Gue duluan.”
“Aneh.”
Keesokan harinya, aku semakin ketagihan belajar menghitungku. Mengasah otakku membuatku semakin banyak berpikir. Yang awalnya otakku banyak sarang laba-laba karena tak pernah kurawat akhirnya sudah bersih karena sering kurawat. Haha, memangnya apaan?
Tidak jarang aku memperlihatkan pada beberapa temanku. Dan sedikit demi sedikit ada peningkatan dalam menghitungku. Kenapa? Karena aku selalu berusaha, berusaha dan berusaha. Tiba-tiba saja Rudi menghampiriku. Penampilannya sedikit berbeda. Lebih baik daripada yang kemarin.
“Bro, gue minta hasil akhirnya lagi, bolehkan?” Tanyanya.
“Boleh,” jawabku.
Semakin hari penampilan Rudi semakin baik. Tapi anehnya, setiap ia menemuiku ia selalu menanyakan hasil hitunganku.
Aku pun memberanikan bertanya mengapa ia selalu menanyakan hal yang sama setiap menemuiku.
“Gue selalu memenangkan lotre dari hasil hitungan loe. Makasih ya, sob. Loe memang membawa keberuntungan buat gue,” itulah jawabannya.
Sekarang aku mengerti. Aku sudah menemukan kelebihanku. Aku juga sudah menemukan perbedaan dari dalam diriku. Dan kini aku sudah tidak pusing lagi mengalikan apalagi membagi.
Pak Danang, aku sudah membuktikannya. Nanti, akan aku jawab semua pertanyaanmu dengan benar. Tanpa berpikir apalagi memakai kalkuator.
Mungkin, ini juga adalah hikmah dari bulan Ramadhan. Mungkin juga karena aku sering tadarusan setiap malamnya. Mungkin juga karena aku selalu berusaha.
Yang terpenting Ramadhan tahun ini sangat membahagiakanku dan menjadikanku diri yang lebih baik. Terima kasih, Ramadhan.
Ciranjang, Mei 2015
(Tugas bersama para flp cjr dulu)
Minta kritik dan saran teman-teman. Saya masih dalam tahap belajar menulis cerita
Meraih mimpi
Maka dari itu, mumpung masih diberi kesempatan hidup oleh Allah, 'bermimpilah'. Raih apa yang kamu mau.
Dan untuk mendapatkan impian itu, ada sebuah pepatah yang mengatakan KEYAKINAN TAK BISA DIKALAHKAN OLEH KERAGUAN.
Yakinlah, karena dengan keyakinan kita pasti akan mendapatkankannya. Apalagi ditambah dengan usaha. Makin kereennnnn.
Jadi, reach your dreams, guys!! :-)

